>>Tentang Fityah<<

~Fata mengenali Allah menyedari tanggungjawabnya menunaikan amanah hanya mengharapkan syurga yang hakiki @},'--

Thursday, June 11, 2009

I AM...

"I AM...” is a poem by Hamza Abdul Malik who is one of our young scholars. Hamza, has memorized the Qur’an in both Warsh and Hafs and has studied Arabic and Shari’ah in Syria, Yemen, and is currently studying in Egypt. He wrote this poem after his wife’s eighty-year old grandmother took Shahada!

I AM…

I am who I am because..
Allah made me who I am

I am that dirty vagabond who sleeps in the alley,
but if it wasn’t for my prayers…
God would have punished the entire city,
but since He loves me so,
He shows them mercy and pity.
So don’t step on me when you see me sleeping
and don’t hold your nose up when you see me weeping,
For if you saw what my tears mean on the Day of Judgment
you wouldn’t be so fast in passing your baseless judgment.

I am that…
Muslim stripper that everyone hates,
who was “doomed to hell” or at least “at its gates”
but one night after the club closed I was in the streets…
and I saw a starving dog looking for something to eat,
so I used up the last of my dollars and nickels,
and I bought a hamburger and I took off the pickles,
and I gave it to the dog… and even though he still looked the same
little did I know that it was my fate that had changed
Allah saw this deed I did that no one thought of
so He gave me paradise just for me showing it so much love

I am that…
Muslim who prays five salats a day,
who stays in wudu to keep devils away,
who goes to the masjid and smiles to everyone, who..
goes to itikaf with his daughters and sons but…
eats the flesh of his sister’s and brothers and…
fights his father and curses his mother… and
doesn’t show mercy to his wife and his kids, so he…
punches his wife right under the eyelids… and he
beats his children as hard as he can cuz…
that’s only way he can feel like a man…
and Allah only gives him respite, so…
he could repent from his sins and set his record right… but
if he isn’t forgiven by his kids and his wife then…
he’s got a world of pain coming to him in the next life…

I am that…
Old woman eighty years of age whose…
got so much wisdom they call her a sage and..
she lays on the bed and before she dies she…
calls her granddaughter to come by her side… and
she tells her she’s ready to die with Islam… so
she tells her granddaughter, “go get the Quran..” and…
she reads the verse “Tell those who disbelieved: if they stop, all their past will be forgiven.”
and she stopped right there cuz her hands were shiverin’… and
she realized that she could not die a “kaffa” so she…
raised up her index and took her shahada… and
her hand fell and she took a gasp… and
that was the end because it was her last.. and
her life was sealed by that last saying so…
she went straight to Jenna without even praying…


I’m that..
orphan who never got a chance in his youth to..
share his talents and spit his truth… until
he left the hood and went to the woods to…
find seclusion and the essence of good… he
was inspired by God and was taught how to read… but
not in the way that we’d like to believe.
He.. reads the hearts, the souls and the mind
He… reads the heavens and reads its signs
He… reads the lines and he reads the lips
of.. the ancient prophets and the ancient scripts
and he… teaches the people through actions and deeds.. and he
carefully plants his wisdom in the hearts like seeds
he teaches the lesson that we can all learn…

“To Allah we belong and to Him we shall return”

Friday, May 29, 2009

a piece of malik bin dinar

"Kehidupanku dimulai dengan kesia-siaan, mabuk, maksiat, berbuat zalim kepada manusia, memakan hak manusia, memakan riba, dan memukul manusia. Kulakukan segala kezaliman, hingga tidak ada satu maksiat pun, melainkan aku telah melakukannya. Sungguh, sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku kerana bangsatnya aku!."


Malik bin Dinar Rohimahullah pernah berkata:
Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan dan memiliki anak. Maka kemudian aku menikah dan dikurniakan seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.

Aku sangat mencintai Fathimah. Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.

Pernah suatu ketika Fathimah melihatku memegang segelas khamar(ARAK), maka diapun mendekatiku dan menolak gelas tersebut hingga tumpah mengenai bajuku.. Saat itu umurnya belum lagi mencecah dua tahun. Seakan-akan Allah Subhanahu wa Ta'ala -lah yang membuatnya melakukan hal tersebut.


Setiap kali dia bertambah besar, semakin bertambah pula keimanan di dalam hatiku. Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala selangkah, maka setiap kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit. Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.

Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. Aku belum memiliki sikap sabar yang ada pada diri seorang mukmin yang dapat menguatkanku di atas cubaan musibah. Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Syaitanpun mempermainkanku, hingga datang suatu hari, syaitan berkata kepadaku: “Sungguh hari ini engkau akan menjadi mabuk dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamar sepanjang malam. Aku minum, minum dan minum. Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.

Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.

Matahari telah gelap, lautan telah berubah menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. Manusia berkumpul pada hari kiamat. Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar. Aku melihat si Fulan tersebut berubah wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.

Sampai aku mendengar seorang penyeru menyeru namaku: “Mari menghadap al-Jabbar!”

Kemudian hilanglah seluruh manusia dari sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar. Kemudian aku melihat seekor ulaR besar yang ganas lagi kuat merayap mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. Akupun lari karena sangat ketakutan. Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah.

Akupun berkata:
“Hai, selamatkanlah aku dari ular ini!” Dia menjawab: “Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu, akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara ular tersebut berada di belakangku. Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata: “Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri ke dalam api?” Akupun kembali berlari dengan cepat sementara ular tersebut semakin dekat. Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata: “Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku.” Maka dia menangis karena Hiba dengan keadaanku LALU berkata: “Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!”

Akupun berlari menuju gunung tersebut sementara ular akan mematukku. Kemudian aku melihat di atas gunung tersebut terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak tersebut berteriak:
“Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!”


Seterusnya, aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. Aku sangat bahagia kerana aku mempunyai seorang putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan menyelamatkanku dari situasi tersebut. Maka diapun memegangku dengan tangan kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya sementara aku seperti mayAt karena sangat ketakutan. Lalu dia duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.

Dia berkata kepadaku:

“Wahai ayah, “belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid:16)


Maka kukatakan: “Wahai putriku, beritahukanlah kepadaku tentang ular itu.”

Dia berkata:
“Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal di dunia akan dirupakan menjadi sesOsok bentuk pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah tersebut adalah amal solihmu, engkau telah melemahkannya hingga dia menangis karena KEADAANmu dan tidak mampu melakukan sesuatu untuk membantu kamu. Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan seandainya saja tidak mati saat masih kecil, tidak akan ada yang boleh memberikan manfaat kepadamu.”


Dia Rahimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku dan berteriak: “Wahai Rabbku, sudah saatnya wahai Rabbku, ya, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dia Rohimahullah berkata:
Akupun masuk ke dalam masjid dan ternyata imam sedang membaca ayat yang sama:
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah.” (Qs. Al-Hadid: 16)
.....

Itulah kisah taubatnya Malik bin Dinar Rohimahullah . Beliau kemudian menjadi salah seorang imam generasi tabi'in, dan termasuk ulama Basrah. Dia dikenali sebagai seorang yang selalu menangis sepanjang malam sambil berkata:

“Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya Dzat Yang Mengetahui penghuni SYURGA dan penghuni NERAKA, maka yang manakah aku di antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni syurga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka.”

Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenalI pada setiap harinya, SEBAGAI SEORANG YANG selalu berdiri di pintu masjid LANTAS berseru:

“Wahai para hamba yang bermaksiat, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan), kembalilah kepada Penolong-mu! Penolong-mu sentiasa menyeru memanggilmu di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu: “Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta. Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa. Siapa yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Aku mohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memberikan rezki taubat kepada kita. Tidak ada SEMBAHAN yang hak selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan rahmat-Nya yang luas. (Misanul I'tidal, III/426).

Wednesday, April 01, 2009

"Impikanlah.."

Dan ingatlah kata-kata Saidina Umar kepada sahabatnya: ” Impikanlah” Seorang pemuda berkata: ” Aku mengimpikan jika sekiranya negeri ini dipenuhi dengan emas lalu aku infakkan pada jalan Allah.” Omar berkata lagi: “Impikanlah”. Seorang pemuda berkata: “Aku mengimpikan jika negeri ini dipenuhi dengan batu permata lalu aku infakkan pada jalan Allah.” Omar berkata lagi: “Impikanlah”. Mereka berkata: “Kami tidak tahu apa yang hendak dikatakan wahai Amirul Mukminin” Omarpun berkata: “Tetapi aku mengimpikan rijal seperti Abu Ubaidah bin al Jarrah, Muaz bin Jabal dan Salim, hamba Abu Huzaifah. Lalu aku meminta pertolongan dari mereka untuk meninggikan kalimah Allah”.

____________ _________ _________ _________ ______

a) Abu Ubaidah al jarrah

Wajahnya selalu berseri. Matanya bersinar. Tubuhnya tinggi kurus. Bidang bahunya kecil. Setiap mata senang melihat kepadanya. Dia selalu ramah tamah, sehingga setiap orang merasa simpati kepadanya. Di sampmg sifatnya yang lemah lembut, dia sangat tawadhu’ (rendah hati) dan sangat pemalu. Tetapi bila menghadapi suatu urusan penting, dia sangat cekatan ba gaikan singa jantan bertemu musuh. Dialah kepercayaan ummat Muhammad. Namanya‘Amir bin ‘Abdillah bin Jarrah Al Fihry Al Qurasyi”, dipanggil “Abu ‘Ubaidah”.

‘Abdullah bin ‘Umar pernah bercerita tentang sifat sifat yang mulia, katanya: “Ada tiga orang Quraisy yang sangat cemerlang wajahnya, tinggi akhlak dan sangat pe malu. Bila berbicara, mereka tidak pernah dusta. Dan apabila orang berbicara kepada mereka, mereka tidak cepat-cepat mendustakan. Mereka itu ialah: Abu Bakar Shiddiq, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Abu ‘U’baidah bin Jarrah.” Abu ‘Ubaidah termasük kelompok pertama masuk Islam. Dia masuk Islam ditangan Abu Bakar Shiddiq, sehari sesudah Abu Bakar masuk Islam. Waktu itu beliau menemui Rasulullah saw. bersama-sama dengan ‘Abdur Rah man bin ‘Auf, ‘Utsman bin Mazh’un dan Arqam bin Abi Arqam untuk mengucapkan syahadat di hadapan beliau. Karena itu mereka tercatat sebagai tiang-tiang pertama dalam pembangunan mahligai Islam yang agung dan indah.

Dalarn kehidupannya sebagai muslim, Abu ‘Ubaidah mengalami masa penindasan yang keras dan kaum Quraisy terhadap kaum muslimin di Makkah, sejak permulaan sampai akhir. Dia turut menderita bersama-sama kaum muslimin yang mula-mula, merasakan tindakan kekerasan, kesulitan dan kesedihan, yang tak pernah dirasakan oleh pengikut agama-agama lain di muka bumi ini. Walaupun beqitu, dia tetap teguh menerima segala macam cobaan. Dia tetap setia dan membenarkan Rasulullah pada setiap situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Bahkan ujian yang dialami Abu ‘Ubaidah dalam perang Badar, melebihi segala macam kekerasan yang pernah kita alami. Abu ‘Ubaidah turut berperang dalam perang Badar. Dia menyusup ke barisan musuh tanpa takut mati Tetapi tentara berkuda kaum musyrikin menghadang dan menge jarnya kemana dia lari. Terutama seorang laki-laki, mengejar Abu ‘Ubaidah dengan sangat beringas kemana saja. Tetapi Abu ‘Ubaidah selalu menghindar dan menjauhkan diri untuk bertarung dengan orang itu. Orang itu tidak mau berhenti mengejarnya. Setelah lama berputar-put akhirnya Abu ‘Ubaidah terpojok. Dia waspada menunggu orang yang mengejarnya. Ketika orang itu tambah dekat kepadanya, dalam posisi yang sangat tepat, Abu ‘Ubaidah mengayunkan pedangnya tepat di kepala lawan. Orang itu jatuh terbanting dengan kepala belah dua. Musuh itu tewas seketika dihadapan Abu ‘Ubaidah. Siapakah lawan Abu ‘Ubaidah yang sangat beringas itu? Di atas telah dikatakan, tindak kekerasan terhadap kaum muslirnin telah melampaui batas. Mungkin Anda ternganga bila mengetahui musuh yang tewas di tangan Abu ‘Ubaidah itu tak lain ialah “Abdullah bin Jarrah” ayah kandung Abu ‘Ubaidah. Abu ‘Ubaidah tidak membunuh bapaknya. Tetapi membunuh kemuysrikan yang bersarang dalam pribadi bapaknya.

Berkenaan dengan kasus Abu ‘Ubaidah tersebut, Allah swt. berfirman sebagai tersebut

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, saling berkasih-sa yang dengan orang-orang yang rnenentang Allah dan Rasul Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahawa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.” (Al Mujadalah: 22)

Ayat di atas tidak menyebabkan Abu ‘Ubaidah membusungkan dada. Bahkan menambah kokoh imannya kepada Allah dan ketulusannya terhadap agama. Orang yang mendapat gelar ‘kepercayaan ummat Muhammad” ini ternyata menarik perhatian orang-orang besar, bagaikan besi berani menarik logam di sekitarnya. Muhammad bin Ja’far menceritakan, “Pada suatu ketika para utusan kaum Nasrani datang menghadap kepada Rasulullah. Kata mereka, “Ya, Aba Qasim! Kirimlah bersama kami seorang sahabat Anda yang Anda pandang cakap menjadi hakim tentang harta yang menyebabkan kami berselisih sesama kami. Kami senang menerima putusan yang ditetapkan kaum muslimin.” Jawab Rasulullah, ‘Datanglah nanti petang, saya akan mengirimkan bersama kalian “orang kuat yang terpercaya” Kata ‘Umar bin Khaththab, “Saya pergi shalat Zhuhur lebih cepat dan biasa. Saya tidak ingin tugas itu diserahkan kepada orang lain, karena saya ingin mendapatkan gelar “orang kuat terpercaya”. Sesudah selesai shalat Zhuhur, Rasulullah menengok ke kanan dan ke kiri. Saya agàk menonjolkan diri supaya Rasulullah melihat saya. Tetapi beliau tidak melihat lagi kepada kami. Setelah beliau melihat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, beliau memanggil seraya berkata kepadanya, ‘Pergilah engkau bersama mereka. Adili dengan baik perkara yang mereka perselisihkan.” Maka pergilah Abu ‘Ubaidah dengan para utusan Nasrani tersebut, menyandang gelar “orang kuar yang terpercaya”.

Abu ‘Ubaidah bukanlah sekedar orang kepercayaan semata-mata. Bahkan dia seorang yang berani memikul kepercayaan yang dibebankan kepadanya. Keberan itu ditunjukkannya dalam berbagai peristiwa dan tugas yang dipikulkan kepadanya. Pada suatu hari Rasulullah saw. mengirim satu pasukan yang terdiri dari para sahabat untuk menghadang kafilah Quraisy. Beliau mengangkat Abu ‘U,baidah menjadi kepala pasukan, dan membekali mereka hanya dengan sekarung kurma. Tidak lebih dri itu. Karena itu Abu ‘Ubaidah membagi-bagikan kepada para prajuritnya sehari sebuah kurma bagi seorang. Mereka mengulum kurma itu seperti menghisap gula-gula. Sesudah itu mereka minum. Hanya begitu mereka makan untuk beberapa hari. Waktu kaum muslimin kalah dalam perang Uhud, kaum musyrikin sedemikian bernapsu ingin membunuh Rasulullah saw. Waktu itu, Abu ‘Ubaidah termasuk sepuluh orang yang selalu membentengi Rasulullah. Mereka mempertaruhkan dada mereka ditembus panah kaum musyrikin, demi keselamatan Rasulullah saw. Ketika pertempuran telah usai, sebuah taring Rasulullah ternyata patah. Kening beliau luka, dan di pipi beliau tertancap dua mata rantai baju besi beliau. Abu Bakar menghampiri Rasulullah hendak mencabut kedua mata rantai itu dan pipi beliau. Kata Abu ‘Ubaidah, “Biarlah saya yang mencabut nya!” Abu Bakar menyilakan Abu ‘Ubaidah. Abu ‘Ubaidah kuatir kalau Rasulullah kesakitan bila dicabutnya dengan tangan. Maka digigitnya mata rantai itu kuat-kuat de ngan giginya lalu ditariknya. Setelah mata rantai itu tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal satu. Kernudian digigit nya pula mata rantai yang sebuah lagi. Setelah tercabut, gigi Abu ‘Ubaidah tanggal pula sebuah lagi. Kata Abu Bakar, “Abu ‘Ubaidah orang ompong yang paling cakap.”

Abu ‘Ubaidah selalu mengikuti Rasulullah berperang dalam setiap peperangan yang dipimpin beliau, sampai beliau wafat. Dalam musyawarah pemilihan Khalifah yang pertama (Yaumu s-saqifah), ‘Umar bin Khaththab mengulurkan tangannya kepadà Abu ‘Ubaidah seraya berkata, “Saya memilih Anda dan bersumpah setia dengan Anda. Karena saya pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda:. “Sesungguhnya tiap-tiap ummat mempunyai orang dipercayai. Orang yang paling dipercaya dan ummat ini adalah Anda (Abu ‘Ubaidah).” Jawab Abu ‘Ubaidah, “Saya tidak mau mendahului orang yang pernah disuruh Rasulullah untuk mengimami kita shalat sewaktu beliau hidup (Abu Bakar). walaupun sekarang beliau telah wafat, marilah kita imamkan juga dia.” Akhfrnya mereka sepakat memilih Abu Bakar inenjadi Khalifah Pentama, sedangkan Abu ‘Ubaidah menjadi penasihat dan pembantu utama bagi Khalifah. Setelah Abu Bakar, jabatan khalifah pindah ke tangan ‘Umar bin Khatthab Al Faruq. Abu ‘Ubaidah selalu dekat dengan ‘Umar dan tidak pernah membangkang perintahnya, kecuali sekali. Tahukah Anda, perintah Khalifah ‘Umar yang bagaimanakah yang tidak dipatuhi Abu Ubaidah? Peristiwa itu terjadi ketika Abu ‘Ubaidah bin Jarrah memimpin tentara muslimin menaklukkan wilayah Syam (Syria). Dia berhasil rnemperoleh kemenangan demi ke menangan berturut-turut, sehingga seluruh wilayah Syam takluk ke bawah kekuasaannya sejak dan tepi sungai Furat di sebelah Timur sampai ke Asia Kecil di sebelah Utara Sementara itu, di negeri Syam berjangkit penyakit menular (Tha’un) yang amat berbahaya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga korban berjatuhan. Khalifah ‘Umar datang dan Madinah , sengaja hendak menemui Abu ‘Ubaidah. Tetapi ‘Umar tidak dapat masuk kota karena penyakit yang sedang mengganas itu. Lalu ‘Umar menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah sebagai berikut: “Saya sangat penting bertemu dengan Saudara. Tetapi saya tidak dapat menemui Saudara karena wabak penyakit sedang berjangkit dalam kota. Karena itu bila surat ini sampai ke tangan Saudara malarn hari, saya harap Saudara berangkat menemui saya di luar kota sebelum Subuh. Dan bila surat ini sampai ke tangan siang hari, saya harap Saudara berangkat sebelum hari petang.”

Setelah surat Khalifah tersebut dibaca Abu ‘Ubaidah, dia berkata, “Saya tahu maksud Amirul Mu’minin memanggil saya. Beliau ingin supaya saya menyingkir dari pe nyakit yang berbahaya ini.” Lalu dibalasnya surat Khalifah, katanya; “Ya, Amirul Mu’minin! Saya mengerti maksud Khalifah memanggil saya. Saya berada di tengah-tenciah tentara muslimin, sedang bertugas memimpin mereka. Saya tidak ingin meninggalkan mereka dalam bahaya yang mengancam hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka, sehingga Allah memberi keputusan kepada kami semua (selamat atau binasa). Maka bila surat ini sampai ke tangan Anda, ma’afkanlah saya tidak dapat memenuhi permintaan Anda, dan beri izinlah saya untuk tetap tinggal bersama-sama mereka.”

Setelah Khalifah ‘Umar selesai membaca surat tersebut, beliau menangis sehingga air matanya meleleh ke pipinya. Karena sedih dan terharu melihat Umar menangis, maka orang yang disamping beliau bertanya, “Ya, Arniral Mu’ minin! Apakah Abu ‘Ubaidah wafat?” “Tidak!” jawab ‘Umar. “Tetapi dia berada di ambang kematian.” Dugaan Khalifah tersebut tidak salah. Karena tidak lama sesudah itu Abu ‘Ubaidah terserang wabak yang sangat berbahaya. Sebelum kematiannya Abu ‘Ubaidah berwasiat kepada seluruh prajuritnya: “Saya berwasiat kepada Anda sekalin. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa berada dalam bahagia. “Tetaplah menegakkan shalat. Laksanakan puasa Ramadhan. Bayar sedekah (zakat). Tunaikan ibadah haji dan ‘umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama ka lian. Nasihati pemerintah kalian, jangan dibiarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang bisa berusia panjang sarnpai senibu tahun, namun akhinnya dia akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini. “Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…” Kemudian dia menoleh kepada Mu’adz bin Jabal. Katanya, “Hai, Mu’adz! Sekarang engkau menjadi Imam (Panglima)!” Tidak lama kemudian, ruhnya yang suci berangkat ke rahmatullah. Dia telah tiada di dunia fana. Jasadnya tidak lama pula habis dimakan masa. Tetapi amal pengorbanannya akan tetap hidup selama-lamanya. Mu’adz bin Jabal berdiri di hadapan jama’ahnya, lalu dia berpidato:

“Ayyuhannaas! (Hai sekalian manusia!) Kita semua sama-sama merasa sedih kehilangan dia (Abu ‘Ubaidah). Demi Allah! Saya tidak melihat orang yang lapang dada melebihi dia. Saya tidak melihat orang yang lebih jauh dan kepalsuan, selain dia. Saya tidak tahu; kalau ada orang yang lebih menyukai kehidupan akhirat melebihi dia. Dan saya tidak tahu, kalau ada orang yang suka memberi nasihat kepada umum melebihi dia. Karena itu marilah kita memohon rahmat Allah baginya, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pula kepada kita semua.

____________ _________ _________ _________ _________ _________

b) Muaz bin Jabal

Beliau merupakan seorang sahabat nabi yang memiliki banyak keutamaan, beliau termasuk salah satu yang orang yang mengumpulkan Al-Qur'an di masa Rasulullah, salah satu yang pernah memberi fatwa di zaman Nabi. Beliau merupakan hamba shalih yang tunduk kepada Allah dan menyeru kepada manusia. Rasulullah pernah mengutusnya dakwah ke Yaman. Beliau juga termasuk Immamu Fuqaha, pemimpin para fakih, kanzul Ulama gudangnya Ilmu. Seorang pemuda yang penyabar, dermawan, murah hati, lapang dada, dan tingi budi pekertinya.

Muadz bin Jabal atau biasa disebut sebagai Abu Abdirahman, beliau termasuk dalam golongan bangsawan yang taat kepada Allah, berbadan tinggi, cakep, putih bersih, besar kelopak matanya, putih mengkilat giginya, berambut pendek lagi keriting, berbudi bahasa dan manis tuturnya serta cerdas dan cemerlang otaknya. Beliau termasuk dalam kelompok Anshar As-Sabiqunal Awwalun (yang pertama masuk islam). Beliau masuk islam umur 18 tahun dan sudah ikut perang Badar pada umur 20 tahun.

Tentang ilmunya Umar bin Khatab pernah berkata, Barangsiapa yang ingin bertanyaa tentang Al-Qur'an hendaknya ia datang kepada Ubay bin Kaab, dan barang siapa yang ingin tanya tentang hukum halal dan haram, hendaknya ia datang kepada Mu'adz bin Jabal. Dan barang siapa yang ingin bertanya tentang harta hendaknya ia datang kepadaku. Sesungguhnya Allah menjadikanku tukang penyimpan (baitulmal).

Demikianlah memang Muadz bin Jabal merupakan orang yang diketahui paling paham halal haram, dan beliau sering dimintai untuk berfatwa. Sebagaimana dikatakan oleh Syakr bin Hausyab, Bila para sahabat Rasulullah berbicara dan diantaranya ada Mu'adz bin Jabal, maka mereka akan minta pendapat kepada Mu'adz disebabkan kewibawaannya.

Kecermelangan otak Mu'adz diakui oleh banyak orang, Kecemerlangan inilah yang menjadikan Rasulullah memuji Mu'adz, Rasulullah bersabda,

Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin jabal.

Mu'adz adalah pemimpin ulama yang paling depan.

Kematian Mu'adz bin Jabal akibat terkena serangan penyakit tha'un, yaitu penyakit kusta pada jari telunjuknya. Beliau terkena penyakit ini justru bahagia bahkan mendo'akan agar seluruh keluarganya mendapat penyakit ini, beliau berkata, Ya Allah, jadikanlah bagian keluarga Mu'adz yang banyak (dari penyakit tha'un tersebut). Akhirnya dua putrinya meninggal dan dikuburkan dalam satu lahat. Kemudian putranya Abdurrahman juga tertimpa tha'un juga. Keluarga Mu'adz akhirnya meninggal semua dan pada pekan tersebut juga Mu'adz meninggal.

Kenapa Mu'adz bisa seperti itu ? Karena beliau pernah mendengar dari riwayat Rasulullah bahwa penyakit tha'un sesungguhnya adalah rahmat dari Allah dan do'a Nabi serta wafatnya orang-orang shalih sebelumnya. Beginilah tanda keikhlasan manusia terbaik umamt ini.

Usia meninggalnya Mu'adz 33 tahun, atau ada yang mengatakan 34 usia yang masih sangat muda pada tahun 18 Hijriyah pada pemerintahan Umar bin Khatab.


____________ _________ _________ _________ _________ _

c) Salim hamba Huzaifah

http://virtualfrien ds.net/article/ articleview. cfm?AID=26137


Pada suatu hari, Rasulullah saw berpesan kpd para sahabat dgn sabda baginda bermaksud, "Ambillah oleh kamu al-Quran dari empat orang iaitu Abdullah bi Mas'ud, Salim Maula Abu Huzaifah, Ubai bin Ka'ab dan Mu'az bin Jabal."

Salim Maula Abu Huzaifah ra pada mulanya hanya seorang hamba. Kemudian dia diambil sebagai anak angkat oleh seorang pemimpin Islam terkemuka bernama Abu Huzaifah bin 'Utbah ra. Apabila Islam menghapuskan tradisi menasabkan anak angkat kepada bapa angkatnya, Abu Huzaifah menjadikan Salim saudara dan maulanya (hamba yang telah dimerdekakan)

Dengan kurnia dan nikmat Allah swt, Dalim mencapai kedudukan yg tinggi dan terhormat di kalangan orang-orang Islam. Dia berjiwa besar, berakhlak mulia dan memiliki taqwa yang tinggi. Salim menjadi imam bagi org2 yg berhijrah dari Makkah ke Madinah pada setiap kali mereka solat di masjid Quba'. Dia menjadi tempat bertanya mengenai Kitabullah hingga Rasulullah saw memerintahkan para sahabat belajar darinya.

Rasulullah saw juga pernah bersabda kepadanya,
"Segala puji bagi Allah yg menjadikan dalam golonganku seorang seperti kamu."

Pada Salim terhimpun keutamaan2 yg terdapat dalam Islam. Kelebihannya yg paling menonjol ialah dia mampu mengemukakan apa yang dianggapnya benar secara terus terang. Ini terbukti dlm peristiwa selepas pembukaan Makkah di mana Rasulullah saw menghantar beberapa rombongan ke kampung2 di sekitar Makkah utk berdakwah, bukan utk berperang. Salah satu pasukan tersebut dikepalai oleh Khalid bi Al-Walid ra. Di kalangan anak buahnya ialah Salim Maula Abu Huzaifah ra.

Semasa beroperasi, terjadilah suatu peristiwa yg menyebabkan Khalid terpaksa menggunakan senjata dan menumpahkan darah. Salim membantah keras tindakan Khalid itu. Walaupun Khalid seorang bangsawan Makkah dan Salim pula dahulunya hanya seorang hamba, dia tidak pernah merasa rendah diri kerana Islam telah menyamatarafkan mereka! Dia juga tidak menganggap Khalid sbg seorang panglima yang kesalahannya harus dibiarkan begitu saja, tetapi baginya Khalid adalah rakan kongsi dlm kewajipan dan tanggungjawab! Dia tidak mempunyai apa-apa agenda tersembunyi, bahkan dia hanya melaksanakan peranan nasihat menasihati yg dianjurkan oleh Islam.

Rasa tidak senang Rasulullah saw atas peristiwa yg berlaku reda bila diberitahu bahawa ada org yg menegur kesalahan Khalid iaitu Salim Maula Abu Huzaifah.

Setelah Rasulullah saw kembali ke rahmatullah, Abu Bakar as-Siddiq ra terpaksa berhadapan pakatan jahat orang2 murtad. Maka berlakulah pertempuran Yamamah, satu peperangan yg sengit dan merupakan ujian berat dlm sejarah Islam. Kaum Muslimin di bawah pimpinan Khalid bin al-Walid ra berangkat ke medan juang. Di antara mujahidin tersebut ialah Salim dan saudaranya, Abu Hudzaifah.

Pedang Salim bagai menari-nari menebas dan menusuk pundak orang2 murtad. Apabila Zaid bin Khattab, pembawa panji tentera Islam gugur, Salim mengambil alih tempatnya. Setelah tangan kanannya putus dipotong musuh, panji yg jatuh segera dikutipnya dgn tangan kiri dan dijulangnya tinggi-tinggi.

Tiba-tiba sekelompok org murtad mengepung dan menyerbu Salim hingga pahlawan ini jatuh. Pertempuran itu berakhir dgn terbunuhnya Musailamah al-Kazzab. Tentera murtad menyerah kalah kpd org2 Islam.

Ketika para sahabat mencari-cari mayat rakan2 yg syahid, mereka bertemu dengan Salim yg sedang berada dlm sakaratul maut. Mendengar jawapan bahawa Abu Huzaifah telah gugur berdekatannya, senyuman terukir di bibir Salim dan dia pun pergi menemui Tuhannya dgn tenang dan sejahtera.

'Umar bin al-Khattab ra berkata, "Andai Salim masih hidup, pasti dialah yang akan menggantikanku. "

Thursday, October 30, 2008

syeikhul ahrar


نشيد شيخ الاحرار احمد ياسين Nasheed Shikh el ahrar hamas

مين قال القضبان بتقدر تحجب نور الشمس

مين مين؟؟
مي قال إنو السجان بيقدر يخرس صوت الرعد
مين مين؟؟
يا شيخ الأحرار يا أحمد ياسين
*** *** ***

طلع المارد شق حدود الليل بمشعل ثورة
طلع الفارس يبني النصر بإذن الله بكره
بتحية إكبار حييوا أبو الأحرار
يا شيخ الأحرار يا أحمد ياسين
*** *** ***

طلعت شمس النصر ونادت مين يلبي الحره
من اكناف الأقصى نادت من محراب الصخره
لباها بإصرار من اتون النار
يا شيخ الأحرار يا أحمد ياسين
*** *** ***

ارفع راسك يلي أشعلت جبال النار الحمره
ورفع صوتك يلي حييت بدهر الكلمة الحره
غيرت المسار بصوتك الهدار
يا شيخ الأحرار يا أحمد ياسين
*** *** ***

طلع الفجر وغاب الليل وهبت نار الثورة
تار الحر ورغم الويل مخبي بقلبو الجمره
وحنا اشعلنا النار مي يطفي النار
يا شيخ الحرار يا أحمد ياسين

*** *** ***




اسم الانشودة : مين قال
كلمات : صالح أحمد
الحان :الاعتصام

Wednesday, July 30, 2008

Kisah Sahabat 040: Usamah bin Zaid

Tahun ketujuh sebelum hijrah, ketika itu Rasulullah saw sedang susah kerana tindakan kaum Quraisy yang menyakiti beliau dan para sahabat. Kesulitan dan kesusahan berda‘wah menyebabkan beliau senantiasa harus bersabar. Dalam suasana seperti itu, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada baginda, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri kerana gembira menyambut berita tersebut.

Siapakah bayi yang sangat berbahagia itu? Sehingga kelahirannya dapat mengubat hati Rasulullah yang sedang duka, berubah jadi gembira? Itulah dia USAMAH BIN ZAID!

Para sahabat tidak merasa aneh bila Rasulullah bersuka-cita dengan kelahiran bayi yang baru itu.. Kerana mereka tahu kedudukan kedua orang tuanya di sisi Rasulullah. Ibu bayi tersebut seorang wanita Habsyi yang diberkati, terkenal dengan panggilan “Ummu Aiman”.

Sesungguhnya Ummu Aiman adalah bekas sahaya ibunda Rasulullah, Aminah binti Wahab. Dialah yang mengasuh Rasulullah waktu kecil, ketika ibundanya masih hidup. Dan dia pulalah yang merawat sesudah ibundanya wafat. Kerana itu dalam kehidupan Rasulullah, baginda hampir tidak mengenal ibunda yang mulia selain Ummu Aiman.

Rasulullah menyayangi Ummu Aiman sebagaimana layaknya sayang anak kepada ibu, Dan baginda sering berucap, “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.” Itulah ibu bayi yang beruntung ini.

Adapun ayahnya adalah kesayangan Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkat beliau sebelum ia Islam. Dia menjadi sahabat beliau tempat mempercayakan segala rahasia. Dan dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tunggal beliau, dan orang yang sangat beliau kasihi dalam Islam.

Kaum muslimin turut gembira dengan kelahiran Usamah bin Zaid, melebihi kegembiraan mereka atas kelahiran bayi-bayi lainnya. Hal itu boleh terjadi, kerana tiap-tiap sesuatu yang disukai Rasulullah adalah juga mereka sukai. Dan bila beliau gembira mereka pun turut gembira pula. Bayi yang sangat beruntung itu mereka panggil “Ibnul Hibb” (anak kesayangan)

Kaum muslimin tidak berlebih-lebihan memanggil Usamah yang masih bayi itu dengan panggilan tersebut. Kerana memang Rasulullah sangat menyayangi Usamah, sehingga dunia seluruhnya agaknya iri hati kerananya.

Usamah sebaya dengan cucu Rasulullah “Hasan bin Fatimah Az Zahra’.” Hasan berkulit putih, cantik bagaikan bunga yang mengagumkan. Dia sangat mirip dengan datuknya, Rasulullah saw. Usamah kulitnya hitam, hidung pesek, sangat mirip dengan ibunya wanita Habsyi. Namun begitu, kasih sayang Rasulullah kepada keduanya tiada berbeza. Beliau sering mengambil Usamah, lalu beliau letakkan di salah satu paha beliau. Kemudian beliau ambil pula Hasan, maka diletakkannya pula di paha yang satu lagi. Kemudian kedua anak itu dirangkulnya bersama-sama kedadanya, seraya berkata, “Wahai Allah! Saya menyayangi kedua anak ini, maka sayangi pulalah mereka.”

Begitu sayangnya Rasulullah kepada Usamah, pada suatu kali Usamah tersandung di bendul pintu, sehingga keningnya luka dan berdarah. Rasulullah menyuruh ‘Aisyah membersihkan darah di luka Usamah, tetapi ‘Aisyah tidak mampu melakukannnya. Kerana itu beliau berdiri mendapatkan Usamah, lalu beliau hisap darah yang keluar dari luka Usamah, kemudian beliau ludahkan. Sesudah itu beliau pujuk Usamah dengan kata-kata manis yang menyenangkan, sehingga Usamah merasa tenteram kembali.

Sebagaimana Rasulullah menyayangi Usamah waktu kecil, begitu pula sayang beliau kepadanya tatkala dia sudah besar.

Hakim bin Hazam, seorang pemimpin Quraisy pernah menghadiahkan pakaian mahal kepada Rasulullah.. Pakaian itu dibeli Hakim di Yaman, dengan harga lima puluh dinar emas, dari Yazan seorang pembesar Yaman. Rasulullah enggan menerima hadiah Hakim, sebab ketika itu dia masih musyrik. Lalu pakaian itu dibeli oleh beliau daripadanya. Beliau memakainya hanya satu kali ketika hari Jumaat. Kemudian pakaian itu beliau berikan kepada Usamah.

Usamah senantiasa memakainya pagi dan petang di tengah tengah pemuda-pemuda Muhajirin dan Ansar sebayanya.

Sejak Usamah meningkat remaja, sudah kelihatan pada dirinya sifat-sifat dan pekerti yang mulia, yang memang menjadikannya kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, berani luar biasa, bijaksana dan pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya. Tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, pengasih dan dikasihi orang, taqwa, wara’ dan mencintai Allah swt.

Waktu terjadi perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah beserta serombongan anak-anak sebayanya, putera-putera para sahabat. Mereka ingin turut jihad fisabilillah. Sebahagian mereka diterima oleh Rasulullah dan sebahagian lagi ditolak oleh beliau, kerana usia mereka yang masih sangat muda. Usamah bin Zaid termasuk kelompok anak-anak yang ditolak. Kerana itu Usamah pulang sambil menangis. Dia sangat sedih tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.

Dalam perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawannya anak-anak remaja putera para sahabat. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Kerana itu beliau mengizinkannya. Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi Sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun. Ketika terjadi perang Hunain, tentera muslimin terdesak sehingga barisan mereka menjadi kacau bilau. Tetapi Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama ‘Abbas, Sufyan bin Harits, dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengan jumlah kecil yang terdiri daripada orang-orang mu’min yang berani ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelamatkan kaum muslimin yang lain dari kejahatan kaum musyrikin.

Dalam perang Mu’tah, Usamah turut berperang di bawah pimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Umurnya ketika itu kira-kira lapan belas tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala, ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan dia terus bertempur dengan gigih di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib pula, sehingga Ja’far syahid pula di hadapan matanya. Usamah menyerbu di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Rawahah, sampai pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid lebih dahulu. Kemudian pimpinan dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkaman tentara Rum.

Selesai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah swt. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syria) dengan mengenang segala kebaikan al-marhum yang telah diperagakannya di hadapan anaknya, Usamah.

Pada tahun kesebelas Hijrah, Rasulullah menurunkan perintah supaya menyiapkan bala tentera untuk memerangi tentera Rum. Dalam pasukan itu terdapat antara lain Abu Bakar As-siddiq, Umar bin Al-Khatthab, Sa’ad bin Abi Waqqas, Abu ‘Ubaidah bin Jarrah, dan lain-lain para sahabat yang tua-tua (senior).

Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang muda remaja menjadi Panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Ketika itu usia Usamah belum melebihi dua puluh tahun. Beliau mernerintahkan Usamah supaya berhenti di Balqa’ dan Qal’atut Daarum dekat Gazzah, termasuk wilayah kekuasaan Rum.

Ketika bala tentara sedang bersiap-siap menunggu perintah berangkat… Rasulullah saw sakit, dan semakin hari sakit beliau bertambah keras. Kerana itu keberangkatan pasukan ditangguhkan menunggu keadaan Rasulullah baik.

Kata Usamah, “Tatkala sakit Rasulullah bertambah berat, saya datang menghadap beliau diikuti orang banyak. Setelah saya masuk, saya dapati beliau sedang diam tidak berkata-kata, kerana sangat kerasnya sakit beliau. Tiba-tiba beliau mengangkat tangan dan meletakkannya ke tubuh saya. Saya tahu beliau memanggilku.”

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah pulang ke rahmatullah. Abu Bakar As-siddiq terpilih dan dilantik menjadi Khalifah. Khalifah Abu Bakar memerintahkan supaya meneruskan pengiriman tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sesuai dengan rencana yang telah digariskan Rasulullah.

Tetapi sekelompok kaum Ansar mengkehendaki supaya menangguhkan pemberangkatan pasukan. Mereka meminta ‘Umar bin Al-Khatthab membicarakannya dengan Khalifah Abu Bakar.

Kata mereka, “Jika Khalifah tetap berkeras hendak meneruskan pengiriman pasukan sebagai dikehendakinya, kami mengusulkan Panglima pasukan, Usamah, yang masih muda remaja ditukar dengan tokoh yang tua dan berpengalaman.”

Mendengar ucapan Umar menyampaikan usul kaum Ansar itu, Abu Bakar bangun menghampiri ‘Umar. Lalu ditariknya janggut Umar seraya berkata dengan marah.

“Hai putera Khatthab! Rasulullah telah mengangkat Usamah. Engkau tahu itu. Kini engkau menyuruhku membatalkan keputusan Rasulullah. Demi Allah! Tidak ada cara begitu!”

Tatkala Umar kembali kepada orang banyak, mereka menanyakan bagaimana hasil pembicaraannya dengan Khalifah tentang usul mereka.

Kata Umar, “Setelah saya sampaikan usul kalian kepada Khalifah, beliau menolak, malahan saya kena marah. Saya dikatakan berani membatalkan keputusan Rasulullah!”

Pasukan tentara muslimin berangkat di bawah pimpinan Panglimanya yang masih muda remaja, Usamah bin Zaid. Khalifah Abu Bakar turut mengiringinya berjalan kaki sedangkan Usamah menunggang kenderaan.

Kata Usamah, “Wahai Khalifah Rasulullah! Silakan anda naik kenderaan. Biarlah saya turun dan berjalan kaki!”

Jawab Abu Bakar, “Demi Allah! Jangan turun Demi Allah! Saya tidak hendak naik kenderaan. Biarlah kaki saya kotor, sementara menghantar engkau berjuang fisabilillah! Saya titipkan engkau agama engkau, kesetiaan engkau, dan kesudahan perjuangan engkau kepada Allah. Saya berwasiat kepada engkau, laksanakan sebaik-baiknya segala perintah Rasulullah kepadamu!”

Kemudian Khalifah Abu Bakar lebih mendekat kepada Usamah. Katanya, “Jika engkau setuju biarlah Umar tinggal bersama saya. Izinkanlah dia tinggal untuk membantu saya.”

Usamah mengizinkan Umar tinggal untuk membantu Khalifah Abu Bakar.

Usamah terus maju membawa pasukan tentera yang dipimpinnya. Segala perintah Rasulullah kepadanya dilaksanakannya sebaik-baiknya. Tiba di Baiqa’ dan Qal’atut Daarum, termasuk daerah Palestin, Usamah berhenti dan memerintahkan tenteranya berkhemah. Kehebatan Rum dapat dihapuskannya dari hati kaum muslimin. Lalu dibentangkannya jalan luas di hadapan mereka bagi perak Syam (Syria) dan Mesir.

Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gilang-gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga dikatakan orang, “Belum pernah terjadi suatu pasukan tempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”

Usamah bin Zaid sepanjang hidupnya berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Kerana dia senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah dengan sempurna, serta memuliakan peribadi Rasul.

Khalifah ‘Umar bin Al-Khatthab pernah diprotes oleh puteranya Abdullah bin Umar, kerana melebihkan Usamah daripada jatah Abdullah sebagai putera Khalifah.

Kata ‘Abdullah bin Umar, “Wahai Ayah! Ayah menjatahkan untuk Usamah empat ribu, sedangkan kepada saya hanya tiga ribu. Padahal jasa ayahnya, agaknya tidak lah lebih banyak daripada jasa ayah sendiri. Begitu lah pula peribadi Usamah, agaknya tidak ada keistimewaannya daripada saya.”

Jawab Khalifah ‘Umar, “Jauh sekali, ayahnya lebih disayangi Rasulullah daripada ayah kamu ini. Dan peribadi Usamah lebih disayangi Rasulullah daripada peribadimu.”

Mendengar keterangan ayahnya, ‘Abdullah bin Umar rela jatah Usamah lebih banyak dari jatah yang diterimanya.

Apabila ‘Umar bertemu dengan Usamah, maka Umar menyapa dengan ucapan: “Marhaban bi amiiri!” (Selamat wahai komanderku!).

Jika ada orang yang hairan dengan sapaan Umar tersebut, maka Umar menjelaskan, “Rasulullah pernah mengangkat Usamah menjadi komander saya.”

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para sahabat yang memiliki jiwa himmah dan keperibadian agung seperti mereka ini. Ameen.



--TAMAT--